Rahasia Kubah Hijau Masjid Nabawi
Jika Anda pikir Kubah Hijau Masjid al-Nabawi hanya sebuah landmark yang indah, pikirkan lagi. Kubah yang mudah dikenali ini adalah salah satu simbol paling ikonik di Madinah. Ini menandai ruang di mana Nabi Muhammad ﷺ dimakamkan dan merupakan salah satu situs yang paling banyak difoto di dunia Islam.
Tapi ada sesuatu yang banyak orang tidak sadari — itu tidak selalu berwarna hijau. Selama berabad-abad, kubah ini telah mengalami beberapa rekonstruksi, penguatan struktural, dan bahkan perubahan warna. Dari asal-usul awalnya hingga saat ia menerima cat hijau khasnya di era Ottoman, setiap fase sejarahnya mencerminkan makna spiritual dan arsitektural yang mendalam.
Jadi, mari kita eksplorasi cerita menarik di balik salah satu landmark paling dikenali dalam Islam.
Latar Belakang Sejarah
Masjid al-Nabawi di Madinah, Arab Saudi, didirikan oleh Nabi Muhammad ﷺ pada tahun 622 M setelah Hijrah (migrasi) dari Makkah. Bersebelahan dengan masjid adalah kamar tempat tinggalnya, yang dibangun dari bata tanah liat dan batang pohon palem.
Setelah Nabi ﷺ wafat pada tahun 632 M, ia dimakamkan di kamar istrinya Aisha رضي الله عنها. Kemudian, Abu Bakr رضي الله عنه dan Umar ibn al-Khattab رضي الله عنه juga dimakamkan di kamar yang sama.
Kubah di atas kamar suci ini pertama kali dibangun pada tahun 1279 M (678 H) selama periode Mamluk di bawah Sultan al-Mansur Qalawun. Namun, kubah tersebut tidak menjadi hijau hingga tahun 1837 M, selama pemerintahan Ottoman di bawah Sultan Mahmud II. Saat ini, Kubah Hijau berdiri sebagai salah satu landmark paling dikenal di Madinah dan melambangkan jantung spiritual Masjid al-Nabawi.
Apa Arti Penting dari Kubah Hijau?
Dome Hijau berdiri di atas kamar Nabi di bagian tenggara Masjid al-Nabawi. Di bawahnya terletak makam:
- Nabi Muhammad ﷺ
- Abu Bakr رضي الله عنه
- Umar رضي الله عنه
Kamar pemakaman dilindungi oleh dinding pelindung dan tidak dapat diakses oleh pengunjung. Ketika Muslim mengunjungi Madinah, mereka menghadap ke kamar tersebut dan mengirimkan salam (salawat) kepada Nabi ﷺ.
Dome itu sendiri tidak memiliki otoritas religius, tetapi berfungsi sebagai penanda visual tempat peristirahatan Nabi. Pentingnya terletak pada apa yang diwakilinya — tempat peristirahatan terakhir Utusan Allah ﷺ.
Sejarah Kubah Hijau
Struktur Awal (622–1279 M)
Kamar Nabi pada awalnya adalah struktur sederhana yang terbuat dari batu bata tanah liat dan batang pohon palm. Selama beberapa abad setelah kepergiannya, tidak ada kubah yang ada di atas kamar tersebut.
Kubah Pertama (1279 M – Periode Mamluk)
Pada tahun 1279 M, Sultan al-Mansur Qalawun memerintahkan pembangunan kubah pertama di atas kamar. Kubah itu terbuat dari kayu dan dimaksudkan untuk melindungi situs suci tersebut.
Rekonstruksi Setelah Kebakaran (1481 M)
Pada tahun 1481 M, sebuah kebakaran menyebabkan kerusakan parah pada bagian-bagian Masjid al-Nabawi. Sultan Qaitbay membangun kembali kubah tersebut menggunakan batu dan memperkuat strukturnya untuk mencegah kerusakan di masa depan.
Pengecatan Hijau (1837 M – Era Ottoman)
Saat pekerjaan restorasi yang diperintahkan oleh Sultan Ottoman Mahmud II pada tahun 1837 M, kubah tersebut dicat hijau. Sebelumnya, kubah itu memiliki berbagai warna, termasuk putih dan mungkin biru. Sejak saat itu, kubah tersebut tetap berwarna hijau, dengan pengecatan berkala untuk menjaga penampilannya.
Kenapa Kubah Itu Hijau?
Awalnya, kubah itu terbuat dari batu yang tidak dicat, memberikan penampilan abu-abu alami. Pada tahun 1837, selama renovasi Ottoman, kubah tersebut dicat hijau.
Hijau memiliki nilai simbolis dalam budaya Islam. Warna ini sering diasosiasikan dengan:
- Surgawi (Jannah), yang dijelaskan dalam Al-Qur'an sebagai taman-taman di bawahnya mengalir sungai
- Perdamaian dan pembaruan
- Berkah dan kehidupan
Sementara warna tersebut memiliki makna simbolis, tidak ada persyaratan agama yang terkait dengan warna kubah. Penampilan hijaunya terutama merupakan hasil sejarah dari restorasi Ottoman.
Mitos, Perselisihan, dan Salah Paham
Beberapa kesalahpahaman mengelilingi Kubah Hijau:
- Arah Doa: Umat Muslim tidak berdoa menghadap Kubah Hijau. Arah doa (Qiblah) selalu menghadap Ka'bah di Makkah.
- Kekuatan Khusus: Kubah itu sendiri tidak memiliki kekuatan supranatural. Penghormatan ditujukan kepada Nabi ﷺ, bukan pada bangunan tersebut.
- Menyentuh untuk Mendapatkan Berkah: Para ulama menjelaskan bahwa berkah datang melalui mengikuti Sunnah dan mengirimkan salam kepada Nabi ﷺ, bukan dengan menyentuh bangunan fisik.
- Akses ke Ruang Makam: Ruang makam di bawah kubah sangat terbatas untuk melindungi kesucian makam.
Fakta Menarik Tentang Kubah Hijau
- Kubah ini berdiri setinggi sekitar 28 meter.
- Ia berada di atas fondasi oktagonal, meningkatkan stabilitas struktural.
- Bagian luar yang bergelombang mencerminkan pengaruh arsitektur Mamluk dan Ottoman.
- Ia telah mengalami beberapa perkuatan akibat kebakaran, penuaan struktural, dan perluasan masjid.
- Ia telah bertahan selama berabad-abad dari perluasan Masjid al-Nabawi.
- Ia tidak dibuka untuk umum karena adanya makam di bawahnya.
Mengapa Masjid al-Nabawi Penting?
Memahami Kubah Hijau membantu pengunjung menghargai pentingnya spiritual dan sejarah yang lebih luas dari Masjid al-Nabawi. Itu adalah:
- Masjid terpenting kedua dalam Islam setelah Masjid al-Haram di Makkah
- Rumah bagi Al-Rawdah, yang dijelaskan dalam hadits autentik sebagai taman dari taman-taman Surga
- Tempat peristirahatan Nabi Muhammad ﷺ
Masjid ini mewakili berabad-abad sejarah Islam, perkembangan arsitektur, dan pengabdian spiritual.
Mencanangkan kunjungan Anda ke Madinah? Pesan tempat Anda di Zaha Taiba Hotel dan nikmati kenyamanan hanya beberapa langkah dari Masjid al-Nabawi.

